Showing posts with label Serba Serbi. Show all posts
Showing posts with label Serba Serbi. Show all posts

INABAH XI '97 (pontren SURYALAYA)

0 comments

Malam itu
Aku terbangun dalam gelap
Dingin, sangat dingin hingga seluruh badanku mulai bergetar
Aku tidur beralaskan kayu
Sebuah botol air mineral berisi air bak kujadikan bantal untuk menyenderkan kepalaku
Botol keras itu,yah hanya botol itulah yang ku jadikan bantal tidurku.
Sementara kaki sebelah kanan dililit rantai sejengkal yg disatukan pada sepatok pasung kayu yg tertancap kokoh di lantai tengah kamar
Kepalaku penuh
Hal-hal yang tidak seharusnya kupikirkan bertebaran didalam pikiranku
“Apa yang aku lakukan?”
"Mengapa kaki dipasung dalam kerangkeng kamar ini?"
“Mengapa aku begitu bodoh?”
“Mengapa aku ada disini?”
Kalimat-kalimat itu terus berkecamuk di kepalaku.
Tiba² ku teringat kejadian kemarin sore,ketika sekelompok org yg mengatasnamakan aa pengurus pondok membekapku dan kemudian mengeroyok aku lantaran aku enggan menuruti perintah mereka untuk melaksanakan sholat dan mandi tobat.
Aku yg kala itu masih dalam pengaruh obat2an terlarang meronta dan berusaha kabur dan melawan meski ahirnya kalah oleh jumlah mereka
Terngiang dibenaku ketika ibu meneteskan airmatanya kala melihatku berkoar layaknya "pendekar kesiangan" dalam keadaan mabuk didalam rumah,teriakanku yg lantang tak tentu sembari merusak seisi kamar
bapakku,kakak2 perempuanku,seolah tak lagi kuhiraukan jerit histeris tangisnya
Yaa, mungkin karna kejadian itulah ayahku berinisiatip mengajak pa Haji (alm) tuk antarkan aku ke pondok ini.
Disini..
Aku tak bisa memeluk mereka
Raga kita terpisah oleh jarak,waktu dan besi yang berjejer rapih dihadapanku
Airmata mereka tumpah
Meski aku tak dapat melihatnya
Raut wajah mereka menjelaskan semua yang tak dapat dijelaskan oleh kedua mataku
Kembali ke malam dimana aku terbangun
Pikiranku terus melayang
Airmataku mulai menetes membasahi pipiku
Aku sadar aku telah mengecewakan orang-orang yang menyayangiku
Namun aku tak dapat mengembalikan waktu
Semuanya sudah berlalu
Aku merindukan semua hal
Aku rindu sinar matahari menghangatkan permukaan kulitku
Aku rindu kebebasan yang tidak aku dapatkan saat ini
Aku rindu berkumpul bersama sahabat-sahabatku, penuh dengan canda, dan juga tawa bahagia

Tapi dibalik semua itu
Aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan
Bila Tuhan tidak menghukumku dengan cara seperti ini,
Mungkin aku sudah tenggelam bersama gelap yang terus menghantui setiap detik dalam hidupku dahulu
Bila Ia tak mengirimku ke tempat ini,
Mungkin aku takkan pernah menjadi diriku yang sekarang
Begitu banyak hal yang kupelajari di tempat ini
Yang takkan mungkin aku dapatkan di tempat manapun di dunia ini
Shalat lima waktu dan ber-dzikir tanpa henti
Rasa kebersamaan dan memiliki
Airmata yang berharga
Dan pelajaran-pelajaran lainnya yang tak mungkin kusebut satu-persatu
Kini aku sadar
Inilah cara Tuhan mengingatkanku akan keberadaanNya
Inilah cara Tuhan menyelamatkanku dari kejam dan pekatnya dunia

Terimakasih Tuhan
Kau membuatku hitam terlebih dulu sebelum memutihkanku
Terimakasih Tuhan
Kau tak membiarkanku tersesat dalam duniaMu yang penuh kekacauan ini lebih jauh
Terimakasih Tuhan
Kau telah memeluk batinku
Dan merubahku
Menjadi aku yang baru...

"Illahi anta maksudi,waridloka mathlubi a'thini mahabbataka wa ma'rifataka"

-†umαяí†íz™ -

dikutip dari catatan facebook ku:
https://m.facebook.com/notes/ohim-tumaritiz/pondok-inabah-xi-97-suryalaya/619595801446149/?refid=21

Serta di dedikasikan untuk mengenang 40hari wafatnya almarhumah ibuku Laela binti Abdul Halim

Catatan Selengkapnya »

Kahlil Gibran

1 comments

Khalil Gibran lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Basyari sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak memengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.
Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di College de la Sagasse sekolah tinggi Katholik-Maronit sejak tahun 1899 sampai 1902.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.
Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Pada tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.
Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriah yang tinggal di Amerika.
Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

Berikut beberapa puisi hasil karya sang Pujangga:


sumber : Wikipedia



Catatan Selengkapnya »

Kisah Cinta Layla Majenun (Qais dan Layla)

1 comments




Alkisah, seorang kepala suku Bani Umar di Jazirah Arab memiIiki segala macam yang
diinginkan orang, kecuali satu hal bahwa ia tidak mempunyai seorang anak. Tabib-tabib di desa
itu menganjurkan berbagai macam ramuan dan obat, tetapi tidak berhasil. Ketika semua
usaha tampak tak berhasil, istrinya menyarankan agar mereka berdua bersujud di hadapan
Tuhan dan dengan tulus memohon kepada Allah swt memberikan anugerah kepada mereka
berdua. "Mengapa tidak?" jawab sang kepala suku. "Kita telah mencoba berbagai macam
cara. Mari, kita coba sekali lagi, tak ada ruginya."
Mereka pun bersujud kepada Tuhan, sambil berurai air mata dari relung hati mereka yang
terluka. "Wahai Segala Kekasih, jangan biarkan pohon kami tak berbuah. Izinkan kami
merasakan manisnya menimang anak dalam pelukan kami. Anugerahkan kepada kami
tanggung jawab untuk membesarkan seorang manusia yang baik. Berikan kesempatan
kepada kami untuk membuat-Mu bangga akan anak kami."
Tak lama kemudian, doa mereka dikabulkan, dan Tuhan menganugerahi mereka seorang
anak laki-laki yang diberi nama Qais. Sang ayah sangat berbahagia, sebab Qais dicintai oleh
semua orang. Ia tampan, bermata besar, dan berambut hitam, yang menjadi pusat perhatian
dan kekaguman. Sejak awal, Qais telah memperlihatkan kecerdasan dan kemampuan fisik
istimewa. Ia punya bakat luar biasa dalam mempelajari seni berperang dan memainkan
musik, menggubah syair dan melukis.
Ketika sudah cukup umur untuk masuk sekolah, ayahnya memutuskan membangun sebuah
sekolah yang indah dengan guru-guru terbaik di Arab yang mengajar di sana , dan hanya
beberapa anak saja yang belajar di situ. Anak-anak lelaki dan perempuan dan keluarga
terpandang di seluruh jazirah Arab belajar di sekolah baru ini.
Di antara mereka ada seorang anak perempuan dari kepala suku tetangga. Seorang gadis
bermata indah, yang memiliki kecantikan luar biasa. Rambut dan matanya sehitam malam;
karena alasan inilah mereka menyebutnya Laila-"Sang Malam". Meski ia baru berusia dua
belas tahun, sudah banyak pria melamarnya untuk dinikahi, sebab-sebagaimana lazimnya
kebiasaan di zaman itu, gadis-gadis sering dilamar pada usia yang masih sangat muda, yakni
sembilan tahun.
Laila dan Qais adalah teman sekelas. Sejak hari pertama masuk sekolah, mereka sudahsaling tertarik satu sama lain. Seiring dengan berlalunya waktu, percikan ketertarikan ini
makin lama menjadi api cinta yang membara. Bagi mereka berdua, sekolah bukan lagi
tempat belajar. Kini, sekolah menjadi tempat mereka saling bertemu. Ketika guru sedang
mengajar, mereka saling berpandangan. Ketika tiba waktunya menulis pelajaran, mereka
justru saling menulis namanya di atas kertas. Bagi mereka berdua, tak ada teman atau
kesenangan lainnya. Dunia kini hanyalah milik Qais dan Laila.
Mereka buta dan tuli pada yang lainnya. Sedikit demi sedikit, orang-orang mulai mengetahui
cinta mereka, dan gunjingan-gunjingan pun mulai terdengar. Di zaman itu, tidaklah pantas
seorang gadis dikenal sebagai sasaran cinta seseorang dan sudah pasti mereka tidak akan
menanggapinya. Ketika orang-tua Laila mendengar bisik-bisik tentang anak gadis mereka,
mereka pun melarangnya pergi ke sekolah. Mereka tak sanggup lagi menahan beban malu
pada masyarakat sekitar.
Ketika Laila tidak ada di ruang kelas, Qais menjadi sangat gelisah sehingga ia meninggalkan
sekolah dan menyelusuri jalan-jalan untuk mencari kekasihnya dengan memanggil-manggil
namanya. Ia menggubah syair untuknya dan membacakannya di jalan-jalan. Ia hanya
berbicara tentang Laila dan tidak juga menjawab pertanyaan orang-orang kecuali bila mereka
bertanya tentang Laila. Orang-orang pun tertawa dan berkata, " Lihatlah Qais , ia sekarang
telah menjadi seorang majnun, gila!"
Akhirnya, Qais dikenal dengan nama ini, yakni “Majnun”. Melihat orang-orang dan
mendengarkan mereka berbicara membuat Majnun tidak tahan. Ia hanya ingin melihat dan
berjumpa dengan Laila kekasihnya. Ia tahu bahwa Laila telah dipingit oleh orang tuanya di
rumah, yang dengan bijaksana menyadari bahwa jika Laila dibiarkan bebas bepergian, ia
pasti akan menjumpai Majnun.
Majnun menemukan sebuah tempat di puncak bukit dekat desa Laila dan membangun
sebuah gubuk untuk dirinya yang menghadap rumah Laila. Sepanjang hari Majnun dudukduduk di depan gubuknya, disamping sungai kecil berkelok yang mengalir ke bawah menuju
desa itu. Ia berbicara kepada air, menghanyutkan dedaunan bunga liar, dan Majnun merasa
yakin bahwa sungai itu akan menyampaikan pesan cintanya kepada Laila. Ia menyapa
burung-burung dan meminta mereka untuk terbang kepada Laila serta memberitahunya
bahwa ia dekat.
Ia menghirup angin dari barat yang melewati desa Laila. Jika kebetulan ada seekor anjingtersesat yang berasal dari desa Laila, ia pun memberinya makan dan merawatnya,
mencintainya seolah-olah anjing suci, menghormatinya dan menjaganya sampai tiba saatnya
anjing itu pergi jika memang mau demikian. Segala sesuatu yang berasal dari tempat
kekasihnya dikasihi dan disayangi sama seperti kekasihnya sendiri.
Bulan demi bulan berlalu dan Majnun tidak menemukan jejak Laila. Kerinduannya kepada
Laila demikian besar sehingga ia merasa tidak bisa hidup sehari pun tanpa melihatnya
kembali. Terkadang sahabat-sahabatnya di sekolah dulu datang mengunjunginya, tetapi ia
berbicara kepada mereka hanya tentang Laila, tentang betapa ia sangat kehilangan dirinya.
Suatu hari, tiga anak laki-laki, sahabatnya yang datang mengunjunginya demikian terharu
oleh penderitaan dan kepedihan Majnun sehingga mereka bertekad membantunya untuk
berjumpa kembali dengan Laila. Rencana mereka sangat cerdik. Esoknya, mereka dan
Majnun mendekati rumah Laila dengan menyamar sebagai wanita. Dengan mudah mereka
melewati wanita-wanita pembantu dirumah Laila dan berhasil masuk ke pintu kamarnya.
Majnun masuk ke kamar, sementara yang lain berada di luar berjaga-jaga. Sejak ia berhenti
masuk sekolah, Laila tidak melakukan apapun kecuali memikirkan Qais. Yang cukup
mengherankan, setiap kali ia mendengar burung-burung berkicau dari jendela atau angin
berhembus semilir, ia memejamkan.matanya sembari membayangkan bahwa ia mendengar
suara Qais didalamnya. Ia akan mengambil dedaunan dan bunga yang dibawa oleh angin
atau sungai dan tahu bahwa semuanya itu berasal dari Qais. Hanya saja, ia tak pernah
berbicara kepada siapa pun, bahkan juga kepada sahabat-sahabat terbaiknya, tentang
cintanya.
Pada hari ketika Majnun masuk ke kamar Laila, ia merasakan kehadiran dan kedatangannya.
Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat bagus dan indah. Rambutnya dibiarkan lepas
tergerai dan disisir dengan rapi di sekitar bahunya. Matanya diberi celak hitam, sebagaimana
kebiasaan wanita Arab, dengan bedak hitam yang disebut surmeh. Bibirnya diberi lipstick
merah, dan pipinya yang kemerah-merahan tampak menyala serta menampakkan
kegembiraannya. Ia duduk di depan pintu dan menunggu.
Ketika Majnun masuk, Laila tetap duduk. Sekalipun sudah diberitahu bahwa Majnun akan
datang, ia tidak percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Majnun berdiri di pintu
selama beberapa menit, memandangi, sepuas-puasnya wajah Laila. Akhirnya, mereka
bersama lagi! Tak terdengar sepatah kata pun, kecuali detak jantung kedua orang yangdimabuk cinta ini. Mereka saling berpandangan dan lupa waktu.
Salah seorang wanita pembantu di rumah itu melihat sahabat-sahabat Majnun di luar kamar
tuan putrinya. Ia mulai curiga dan memberi isyarat kepada salah seorang pengawal. Namun,
ketika ibu Laila datang menyelidiki, Majnun dan kawan-kawannya sudah jauh pergi. Sesudah
orang-tuanya bertanya kepada Laila, maka tidak sulit bagi mereka mengetahui apa yang
telah terjadi. Kebisuan dan kebahagiaan yang terpancar dimatanya menceritakan segala
sesuatunya.
Sesudah terjadi peristiwa itu, ayah Laila menempatkan para pengawal di setiap pintu di
rumahnya. Tidak ada jalan lain bagi Majnun untuk menghampiri rumah Laila, bahkan dari
kejauhan sekalipun. Akan tetapi jika ayahnya berpikiran bahwa, dengan bertindak hati-hati ini
ia bisa mengubah perasaan Laila dan Majnun, satu sama lain, sungguh ia salah besar.
Ketika ayah Majnun tahu tentang peristiwa di rumah Laila, ia memutuskan untuk mengakhiri
drama itu dengan melamar Laila untuk anaknya. Ia menyiapkan sebuah kafilah penuh
dengan hadiah dan mengirimkannya ke desa Laila. Sang tamu pun disambut dengan sangat
baik, dan kedua kepala suku itu berbincang-bincang tentang kebahagiaan anak-anak mereka.
Ayah Majnun lebih dulu berkata, "Engkau tahu benar, kawan, bahwa ada dua hal yang sangat
penting bagi kebahagiaan, yaitu “Cinta dan Kekayaan”.
Anak lelakiku mencintai anak perempuanmu, dan aku bisa memastikan bahwa aku sanggup
memberi mereka cukup banyak uang untuk mengarungi kehidupan yang bahagia dan
menyenangkan. Mendengar hal itu, ayah Laila pun menjawab, "Bukannya aku menolak Qais.
Aku percaya kepadamu, sebab engkau pastilah seorang mulia dan terhormat," jawab ayah
Laila. "Akan tetapi, engkau tidak bisa menyalahkanku kalau aku berhati-hati dengan anakmu.
Semua orang tahu perilaku abnormalnya. Ia berpakaian seperti seorang pengemis. Ia pasti
sudah lama tidak mandi dan iapun hidup bersama hewan-hewan dan menjauhi orang banyak.
“Tolong katakan kawan, jika engkau punya anak perempuan dan engkau berada dalam
posisiku, akankah engkau memberikan anak perempuanmu kepada anakku?"
Ayah Qais tak dapat membantah. Apa yang bisa dikatakannya? Padahal, dulu anaknya
adalah teladan utama bagi kawan-kawan sebayanya? Dahulu Qais adalah anak yang paling
cerdas dan berbakat di seantero Arab? Tentu saja, tidak ada yang dapat dikatakannya.
Bahkan, sang ayahnya sendiri susah untuk mempercayainya. Sudah lama orang tidak
mendengar ucapan bermakna dari Majnun. "Aku tidak akan diam berpangku tangan danmelihat anakku menghancurkan dirinya sendiri," pikirnya. "Aku harus melakukan sesuatu."
Ketika ayah Majnun kembali pulang, ia menjemput anaknya, Ia mengadakan pesta makan
malam untuk menghormati anaknya. Dalam jamuan pesta makan malam itu, gadis-gadis
tercantik di seluruh negeri pun diundang. Mereka pasti bisa mengalihkan perhatian Majnun
dari Laila, pikir ayahnya. Di pesta itu, Majnun diam dan tidak mempedulikan tamu-tamu
lainnya. Ia duduk di sebuah sudut ruangan sambil melihat gadis-gadis itu hanya untuk
mencari pada diri mereka berbagai kesamaan dengan yang dimiliki Laila.
Seorang gadis mengenakan pakaian yang sama dengan milik Laila; yang lainnya punya
rambut panjang seperti Laila, dan yang lainnya lagi punya senyum mirip Laila. Namun, tak
ada seorang gadis pun yang benar-benar mirip dengannya, Malahan, tak ada seorang pun
yang memiliki separuh kecantikan Laila. Pesta itu hanya menambah kepedihan perasaan
Majnun saja kepada kekasihnya. Ia pun berang dan marah serta menyalahkan setiap orang
di pesta itu lantaran berusaha mengelabuinya.
Dengan berurai air mata, Majnun menuduh orang-tuanya dan sahabat-sahabatnya sebagai
berlaku kasar dan kejam kepadanya. Ia menangis sedemikian hebat hingga akhirnya jatuh ke
lantai dalam keadaan pingsan. Sesudah terjadi petaka ini, ayahnya memutuskan agar Qais
dikirim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah dengan harapan bahwa Allah akan
merahmatinya dan membebaskannya dari cinta yang menghancurkan ini.
Di Makkah, untuk menyenangkan ayahnya, Majnun bersujud di depan altar Kabah, tetapi apa
yang ia mohonkan? "Wahai Yang Maha Pengasih, Raja Diraja Para Pecinta, Engkau yang
menganugerahkan cinta, aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja,”Tinggikanlah cintaku
sedemikian rupa sehingga, sekalipun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup."
Ayahnya kemudian tahu bahwa tak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk anaknya.
Usai menunaikan ibadah haji, Majnun yang tidak mau lagi bergaul dengan orang banyak di
desanya, pergi ke pegunungan tanpa memberitahu di mana ia berada. Ia tidak kembali ke
gubuknya. Alih-alih tinggal dirumah, ia memilih tinggal direruntuhan sebuah bangunan tua
yang terasing dari masyarakat dan tinggal didalamnya. Sesudah itu, tak ada seorang pun
yang mendengar kabar tentang Majnun. Orang-tuanya mengirim segenap sahabat dan
keluarganya untuk mencarinya. Namun, tak seorang pun berhasil menemukannya. Banyak
orang berkesimpulan bahwa Majnun dibunuh oleh binatang-binatang gurun sahara. Ia bagai
hilang ditelan bumi.Suatu hari, seorang musafir melewati reruntuhan bangunan itu dan melihat ada sesosok aneh
yang duduk di salah sebuah tembok yang hancur. Seorang liar dengan rambut panjang
hingga ke bahu, jenggotnya panjang dan acak-acakan, bajunya compang-camping dan
kumal. Ketika sang musafir mengucapkan salam dan tidak beroleh jawaban, ia
mendekatinya. Ia melihat ada seekor serigala tidur di kakinya. "Hus” katanya, 'Jangan
bangunkan sahabatku." Kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah kejauhan.
Sang musafir pun duduk di situ dengan tenang. Ia menunggu dan ingin tahu apa yang akan
terjadi. Akhimya, orang liar itu berbicara. Segera saja ia pun tahu bahwa ini adalah Majnun
yang terkenal itu, yang berbagai macam perilaku anehnya dibicarakan orang di seluruh
jazirah Arab. Tampaknya, Majnun tidak kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan
dengan binatang-binatang buas dan liar. Dalam kenyataannya, ia sudah menyesuaikan diri
dengan sangat baik sehingga lumrah-lumrah saja melihat dirinya sebagai bagian dari
kehidupan liar dan buas itu.
Berbagai macam binatang tertarik kepadanya, karena secara naluri mengetahui bahwa
Majnun tidak akan mencelakakan mereka. Bahkan, binatang-binatang buas seperti serigala
sekalipun percaya pada kebaikan dan kasih sayang Majnun. Sang musafir itu mendengarkan
Majnun melantunkan berbagai kidung pujiannya pada Laila. Mereka berbagi sepotong roti
yang diberikan olehnya. Kemudian, sang musafir itu pergi dan melanjutkan petjalanannya.
Ketika tiba di desa Majnun, ia menuturkan kisahnya pada orang-orang. Akhimya, sang kepala
suku, ayah Majnun, mendengar berita itu. Ia mengundang sang musafir ke rumahnya dan
meminta keteransran rinci darinya. Merasa sangat gembira dan bahagia bahwa Majnun
masih hidup, ayahnya pergi ke gurun sahara untuk menjemputnya.
Ketika melihat reruntuhan bangunan yang dilukiskan oleh sang musafir itu, ayah Majnun
dicekam oleh emosi dan kesedihan yang luar biasa. Betapa tidak! Anaknya terjerembab
dalam keadaan mengenaskan seperti ini. "Ya Tuhanku, aku mohon agar Engkau
menyelamatkan anakku dan mengembalikannya ke keluarga kami," jerit sang ayah menyayat
hati. Majnun mendengar doa ayahnya dan segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan bersimpuh dibawah kaki ayahnya, ia pun menangis, "Wahai ayah, ampunilah aku
atas segala kepedihan yang kutimbulkan pada dirimu. Tolong lupakan bahwa engkau pernah
mempunyai seorang anak, sebab ini akan meringankan beban kesedihan ayah. Ini sudah
nasibku mencinta, dan hidup hanya untuk mencinta." Ayah dan anak pun saling berpelukandan menangis. Inilah pertemuan terakhir mereka.
Keluarga Laila menyalahkan ayah Laila lantaran salah dan gagal menangani situasi putrinya.
Mereka yakin bahwa peristiwa itu telah mempermalukan seluruh keluarga. Karenanya,
orangtua Laila memingitnya dalam kamamya. Beberapa sahabat Laila diizinkan untuk
mengunjunginya, tetapi ia tidak ingin ditemani. Ia berpaling kedalam hatinya, memelihara api
cinta yang membakar dalam kalbunya. Untuk mengungkapkan segenap perasaannya yang
terdalam, ia menulis dan menggubah syair kepada kekasihnya pada potongan-potongan
kertas kecil. Kemudian, ketika ia diperbolehkan menyendiri di taman, ia pun menerbangkan
potongan-potongan kertas kecil ini dalam hembusan angin. Orang-orang yang menemukan
syair-syair dalam potongan-potongan kertas kecil itu membawanya kepada Majnun. Dengan
cara demikian, dua kekasih itu masih bisa menjalin hubungan.
Karena Majnun sangat terkenal di seluruh negeri, banyak orang datang mengunjunginya.
Namun, mereka hanya berkunjung sebentar saja, karena mereka tahu bahwa Majnun tidak
kuat lama dikunjungi banyak orang. Mereka mendengarkannya melantunkan syair-syair indah
dan memainkan serulingnya dengan sangat memukau.
Sebagian orang merasa iba kepadanya; sebagian lagi hanya sekadar ingin tahu tentang
kisahnya. Akan tetapi, setiap orang mampu merasakan kedalaman cinta dan kasih
sayangnya kepada semua makhluk. Salah seorang dari pengunjung itu adalah seorang
ksatria gagah berani bernama 'Amar, yang berjumpa dengan Majnun dalam perjalanannya
menuju Mekah. Meskipun ia sudah mendengar kisah cinta yang sangat terkenal itu di
kotanya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut Majnun sendiri.
Drama kisah tragis itu membuatnya sedemikian pilu dan sedih sehingga ia bersumpah dan
bertekad melakukan apa saja yang mungkin untuk mempersatukan dua kekasih itu, meskipun
ini berarti menghancurkan orang-orang yang menghalanginya! Kaetika Amr kembali ke kota
kelahirannya, Ia pun menghimpun pasukannya. Pasukan ini berangkat menuju desa Laila dan
menggempur suku di sana tanpa ampun. Banyak orang yang terbunuh atau terluka.
Ketika pasukan 'Amr hampir memenangkan pertempuran, ayah Laila mengirimkan pesan
kepada 'Amr, “Jika engkau atau salah seorang dari prajuritmu menginginkan putriku, aku
akan menyerahkannya tanpa melawan. Bahkan, jika engkau ingin membunuhnya, aku tidak
keberatan. Namun, ada satu hal yang tidak akan pernah bisa kuterima, jangan minta aku
untuk memberikan putriku pada orang gila itu”. Majnun mendengar pertempuran itu hingga iabergegas kesana. Di medan pertempuran, Majnun pergi ke sana kemari dengan bebas di
antara para prajurit dan menghampiri orang-orang yang terluka dari suku Laila. Ia merawat
mereka dengan penuh perhatian dan melakukan apa saja untuk meringankan luka mereka.
Amr pun merasa heran kepada Majnun, ketika ia meminta penjelasan ihwal mengapa ia
membantu pasukan musuh, Majnun menjawab, "Orang-orang ini berasal dari desa
kekasihku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi musuh mereka?" Karena sedemikian
bersimpati kepada Majnun, 'Amr sama sekali tidak bisa memahami hal ini. Apa yang
dikatakan ayah Laila tentang orang gila ini akhirnya membuatnya sadar. Ia pun
memerintahkan pasukannya untuk mundur dan segera meninggalkan desa itu tanpa
mengucapkan sepatah kata pun kepada Majnun.
Laila semakin merana dalam penjara kamarnya sendiri. Satu-satunya yang bisa ia nikmati
adalah berjalan-jalan di taman bunganya. Suatu hari, dalam perjalanannya menuju taman,
Ibn Salam, seorang bangsawan kaya dan berkuasa, melihat Laila dan serta-merta jatuh cinta
kepadanya. Tanpa menunda-nunda lagi, ia segera mencari ayah Laila. Merasa lelah dan
sedih hati karena pertempuran yang baru saja menimbulkan banyak orang terluka di
pihaknya, ayah Laila pun menyetujui perkawinan itu.
Tentu saja, Laila menolak keras. Ia mengatakan kepada ayahnya, "Aku lebih senang mati
ketimbang kawin dengan orang itu." Akan tetapi, tangisan dan permohonannya tidak digubris.
Lantas ia mendatangi ibunya, tetapi sama saja keadaannya. Perkawinan pun berlangsung
dalam waktu singkat. Orangtua Laila merasa lega bahwa seluruh cobaan berat akhirnya
berakhir juga.
Akan tetapi, Laila menegaskan kepada suaminya bahwa ia tidak pernah bisa mencintainya.
"Aku tidak akan pernah menjadi seorang istri," katanya. "Karena itu, jangan membuangbuang waktumu. Carilah seorang istri yang lain. Aku yakin, masih ada banyak wanita yang
bisa membuatmu bahagia." Sekalipun mendengar kata-kata dingin ini, Ibn Salam percaya
bahwa, sesudah hidup bersamanya beberapa waktu larnanya, pada akhirnya Laila pasti akan
menerimanya. Ia tidak mau memaksa Laila, melainkan menunggunya untuk datang
kepadanya.
Ketika kabar tentang perkawinan Laila terdengar oleh Majnun, ia menangis dan meratap
selama berhari-hari. Ia melantunkan lagu-Iagu yang demikian menyayat hati dan mengharu
biru kalbu sehingga semua orang yang mendengarnya pun ikut menangis. Derita dankepedihannya begitu berat sehingga binatang-binatang yang berkumpul di sekelilinginya pun
turut bersedih dan menangis. Namun, kesedihannya ini tak berlangsung lama, sebab tiba-tiba
Majnun merasakan kedamaian dan ketenangan batin yang aneh. Seolah-olah tak terjadi apaapa, ia pun terus tinggal di reruntuhan itu. Perasaannya kepada Laila tidak berubah dan
malah menjadi semakin lebih dalam lagi.
Dengan penuh ketulusan, Majnun menyampaikan ucapan selamat kepada Laila atas
perkawinannya: “Semoga kalian berdua selalu berbahagia di dunia ini. Aku hanya meminta
satu hal sebagai tanda cintamu, janganlah engkau lupakan namaku, sekalipun engkau telah
memilih orang lain sebagai pendampingmu. Janganlah pernah lupa bahwa ada seseorang
yang, meskipun tubuhnya hancur berkeping-keping, hanya akan memanggil-manggil
namamu, Laila”.
Sebagai jawabannya, Laila mengirimkan sebuah anting-anting sebagai tanda pengabdian
tradisional. Dalam surat yang disertakannya, ia mengatakan, "Dalam hidupku, aku tidak bisa
melupakanmu barang sesaat pun. Kupendam cintaku demikian lama, tanpa mampu
menceritakannya kepada siapapun. Engkau memaklumkan cintamu ke seluruh dunia,
sementara aku membakarnya di dalam hatiku, dan engkau membakar segala sesuatu yang
ada di sekelilingmu” . “Kini, aku harus menghabiskan hidupku dengan seseorang, padahal
segenap jiwaku menjadi milik orang lain. Katakan kepadaku, kasih, mana di antara kita yang
lebih dimabuk cinta, engkau ataukah aku?.
Tahun demi tahun berlalu, dan orang-tua Majnun pun meninggal dunia. Ia tetap tinggal di
reruntuhan bangunan itu dan merasa lebih kesepian ketimbang sebelumnya. Di siang hari, ia
mengarungi gurun sahara bersama sahabat-sahabat binatangnya. Di malam hari, ia
memainkan serulingnya dan melantunkan syair-syairnya kepada berbagai binatang buas
yang kini menjadi satu-satunya pendengarnya. Ia menulis syair-syair untuk Laila dengan
ranting di atas tanah. Selang beberapa lama, karena terbiasa dengan cara hidup aneh ini, ia
mencapai kedamaian dan ketenangan sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu pun yang
sanggup mengusik dan mengganggunya.
Sebaliknya, Laila tetap setia pada cintanya. Ibn Salam tidak pernah berhasil mendekatinya.
Kendatipun ia hidup bersama Laila, ia tetap jauh darinya. Berlian dan hadiah-hadiah mahal
tak mampu membuat Laila berbakti kepadanya. Ibn Salam sudah tidak sanggup lagi merebut
kepercayaan dari istrinya. Hidupnya serasa pahit dan sia-sia. Ia tidak menemukanketenangan dan kedamaian di rumahnya. Laila dan Ibn Salam adalah dua orang asing dan
mereka tak pernah merasakan hubungan suami istri. Malahan, ia tidak bisa berbagi kabar
tentang dunia luar dengan Laila.
Tak sepatah kata pun pernah terdengar dari bibir Laila, kecuali bila ia ditanya. Pertanyaan ini
pun dijawabnya dengan sekadarnya saja dan sangat singkat. Ketika akhirnya Ibn Salam jatuh
sakit, ia tidak kuasa bertahan, sebab hidupnya tidak menjanjikan harapan lagi. Akibatnya,
pada suatu pagi di musim panas, ia pun meninggal dunia. Kematian suaminya tampaknya
makin mengaduk-ngaduk perasaan Laila. Orang-orang mengira bahwa ia berkabung atas
kematian Ibn Salam, padahal sesungguhnya ia menangisi kekasihnya, Majnun yang hilang
dan sudah lama dirindukannya.
Selama bertahun-tahun, ia menampakkan wajah tenang, acuh tak acuh, dan hanya sekali
saja ia menangis. Kini, ia menangis keras dan lama atas perpisahannya dengan kekasih
satu-satunya. Ketika masa berkabung usai, Laila kembali ke rumah ayahnya. Meskipun
masih berusia muda, Laila tampak tua, dewasa, dan bijaksana, yang jarang dijumpai pada diri
wanita seusianya. Semen tara api cintanya makin membara, kesehatan Laila justru memudar
karena ia tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Ia tidak mau makan dan juga tidak tidur
dengan baik selama bermalam-malam.
Bagaimana ia bisa memperhatikan kesehatan dirinya kalau yang dipikirkannya hanyalah
Majnun semata? Laila sendiri tahu betul bahwa ia tidak akan sanggup bertahan lama.
Akhirnya, penyakit batuk parah yang mengganggunya selama beberapa bulan pun
menggerogoti kesehatannya. Ketika Laila meregang nyawa dan sekarat, ia masih memikirkan
Majnun. Ah, kalau saja ia bisa berjumpa dengannya sekali lagi untuk terakhir kalinya! Ia
hanya membuka matanya untuk memandangi pintu kalau-kalau kekasihnya datang. Namun,
ia sadar bahwa waktunya sudah habis dan ia akan pergi tanpa berhasil mengucapkan salam
perpisahan kepada Majnun. Pada suatu malam di musim dingin, dengan matanya tetap
menatap pintu, ia pun meninggal dunia dengan tenang sambil bergumam, Majnun…Majnun.
.Majnun.
Kabar tentang kematian Laila menyebar ke segala penjuru negeri dan, tak lama kemudian,
berita kematian Lailapun terdengar oleh Majnun. Mendengar kabar itu, ia pun jatuh pingsan di
tengah-tengah gurun sahara dan tetap tak sadarkan diri selama beberapa hari. Ketika
kembali sadar dan siuman, ia segera pergi menuju desa Laila. Nyaris tidak sanggup berjalanlagi, ia menyeret tubuhnya di atas tanah. Majnun bergerak terus tanpa henti hingga tiba di
kuburan Laila di luar kota . Ia berkabung dikuburannya selama beberapa hari.
Ketika tidak ditemukan cara lain untuk meringankan beban penderitaannya, per1ahan-lahan
ia meletakkan kepalanya di kuburan Laila kekasihnya dan meninggal dunia dengan tenang.
Jasad Majnun tetap berada di atas kuburan Laila selama setahun. Belum sampai setahun
peringatan kematiannya ketika segenap sahabat dan kerabat menziarahi kuburannya,
mereka menemukan sesosok jasad terbujur di atas kuburan Laila. Beberapa teman
sekolahnya mengenali dan mengetahui bahwa itu adalah jasad Majnun yang masih segar
seolah baru mati kemarin. Ia pun dikubur di samping Laila. Tubuh dua kekasih itu, yang kini
bersatu dalam keabadian, kini bersatu kembali.
Konon, tak lama sesudah itu, ada seorang Sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan
Tuhan. Allah swt membelai Majnun dengan penuh kasih sayang dan mendudukkannya disisiNya.Lalu, Tuhan pun berkata kepada Majnun, "Tidakkah engkau malu memanggil-manggilKu dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?"
Sang Sufi pun bangun dalam keadaan gelisah. Jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik
dan penuh kasih oleh Allah Subhana wa ta’alaa, ia pun bertanya-tanya, lantas apa yang
terjadi pada Laila yang malang ? Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Allah swt pun
mengilhamkan jawaban kepadanya, "Kedudukan Laila jauh lebih tinggi, sebab ia
menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri."

Sumber: Negeri Sufi ( Tales from The Land of Sufis )



Catatan Selengkapnya »

Eyang Subur - Potret Kehidupan ataukah Budaya

0 comments


 Beberapa minggu ke belakang pemberitaan media di kejutkan dengan pertikaian antara Adi bing Slamet vs Eyang subur yang dalam hal ini adalah mantan guru Spiritualnya sendiri..Yah..mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa disekitar kita masih banyak orang yang mempercayakan akidah ataupun keberuntungannya di asah melalui perantara sang Guru Spiritual.berikut sedikit banyak biografi yang konon merupakan Guru spiritual kalangan sebagian Artis.
Subur adalah bandar togel di Jombang sebelum hijrah ke Jakarta. Membangun toko jahit dengan pelanggan pertama para pelawak Srimulat. Dianggap sakti sejak rumahnya tak terbakar.
Jombang sejak lama dikenal sebagai basis kalangan santri. Di sana pula berdiri banyak pesantren yang cukup tua usianya. Namun siapa nyana, di tahun 1960-an, perjudian sempat marak di kota kecil di Jawa Timur (Jatim) tersebut. Judi merambah hingga sudut-sudut perkampungan. Salah satunya di Kampung Tugu Kepatihan, Gang IV, Kelurahan Kepanjen, Kota Jombang.
Di kampung itulah, sekitar 1965-an itu, terdapat seorang bandar judi yang cukup moncer. Namanya Subur. Nama itu belakangan menggegerkan jagat hiburan dan politik di tanah air. Bermula dari perseteruan antara Subur dengan seorang pesohor, Adi Bing Slamet. Adi menuding pria berusia 67 tahun itu sebagai dukun dan penyebar ajaran sesat.
Perseteruan itu sampai ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan bahkan masuk Gedung Dewan DPR. Kebetulan, anggota DPR sedang membahas pasal santet dalam RUU KUHP.
Eyang Subur adalah anak pertama dari pasangan suami istri Matari dan Rubiah. Ia mempunyai dua adik perempuan, Sutik (62) dan Sutikah (59). Kedua orang tua Subur menghidupi anak-anaknya dari hasil berburuh tani.
Saat menjalani profesi sebagai bandar judi, Eyang Subur masih terbilang remaja. Ia baru saja lulus dari sebuah sekolah ekonomi di kampung halamannya itu. Subur mengundi judi togel yang dibandarinya dua kali dalam sepekan. “Jumlahnya sangat banyak saat itu,” kenang sohib Subur, Supri (62), saat ditemui majalah detik.
‘Bisnis’ itu dijalani Subur dengan lancar selama 5 tahun, meski kadang merugi. Nah, suatu hari, tutur Supri, ‘klien’ Subur berhasil menang besar. Subur pun kalang kabut membayarnya. Karena tak punya uang, ia memutuskan untuk kabur. “Dia sampai dikejar-kejar polisi,” ucap Supri.
Sekitar tahun 1970-an, Subur ‘terdampar’ di Jakarta. Namun, Sutik menampik kakaknya pergi ke Jakarta karena menjadi buron kasus perjudian. Subur merantau ke ibu kota untuk melanjutkan usaha jahitnya. Di Jombang, usaha kecil-kecilan yang digeluti Subur itu kurang laku. “Cak Subur ke Jakarta naik kereta. Keluarga sedih ditinggal,” ucap Sutik kepada majalah detik.
Di Jakarta, Eyang Subur memang sempat mendirikan toko jahit di Blok C, Slipi, Jakarta Barat (Jakbar). Toko bernama “Penjahit Antik Tailor” juga dipakai sebagai tempat tinggal Subur dengan para karyawannya. Subur banyak menerima orderan dari toko-toko baju di Pasar Blok M. Dari usaha jahit itu pula awal mula Subur bersinggungan dengan kalangan artis.
Tak jauh dari toko jahit Subur, persisnya di Jl. Anggrek Cendrawasih Raya No. 37, bermarkas grup lawak legendaris, Srimulat. Basecamp itu berbentuk rumah, yang disewa oleh almarhum pelawak Asmuni. Di situ pula Asmuni berjualan rujak cingur. Sedangkan, personel Srimulat lainnya
menyewa rumah di sekitar basecamp.
Tahun 1980-an Srimulat mencapai masa keemasan. Srimulat banyak memesan kostum untuk keperluan manggung dari Subur. Kostum itu bermacam-macam, mulai dari yang formal berupa jas, hingga yang unik. Contoh kostum unik itu antara lain kostum drakula yang dipakai Yongki.
“Jahitan Subur itu bagus, makanya pesan ke sana,” kata personel Srimulat, Nurbuat.
Tak sekadar urusan jahit-menjahit, Eyang Subur dekat dengan Srimulat karena faktor Slamet. Slamet adalah anggota Srimulat yang satu kampung halaman dengan Subur di Jombang. Kabarnya pula, bersama Slamet-lah Subur berangkat merantau ke Jakarta. Saking dekatnya, bila sedang mengantar jahitan, Subur ikut menimbrung membahas grup Srimulat.
Di lingkungan Srimulat, Eyang Subur dipanggil dengan sebutan “Cak”, panggilan pertemanan khas Jatim. Bila datang ke markas Srimulat, penampilan Subur selalu mengundang perhatian. “Pakaiannya paling necis,” kata mantan pembantu Asmuni, Samir.
Hubungan Eyang Subur dengan Srimulat tak berubah ketika ia pindah rumah ke Gang Beringin III, Pasar Patra, Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakbar. Malah, beberapa personel Srimulat seperti Tarzan, Mamiek, Gogon, dan Tessy, balik berkunjung ke rumah tersebut. Tahun terus berjalan, pergaulan Subur dengan kalangan pekerja seni pun semakin luas. Artis-artis yang lebih junior dibanding Srimulat satu per satu berkenalan dengan Subur.
Mereka antara lain Adi, pelawak Bagito Grup, Unang, serta Septian Dwi Cahyo, seorang pantomimer. Sejak pindah ke Duri Kepa, Subur juga meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang jahit. Dekat dengan artis, ia pun menjajal pekerjaan baru sebagai sutradara film. Eyang Subur sempat mendirikan rumah produksi bernama Paisindo. Namun, film yang sempat dibuat tak pernah berhasil tayang.
“Kalau saya ngobrol dengan orang film, dia bilang nggak akan laku,” ucap Ujang, mantan pembantu Subur. Cerita yang berkembang kemudian menyebutkan, Subur menjadi pengorbit artis-artis yang datang kepadanya. Versi lainnya, Subur menjadi semacam konsultan atau guru spiritual para artis yang ingin sukses dalam kariernya.
Fenomena guru spiritual ini memang hal biasa di kalangan pekerja hiburan di Jakarta. Sebagai guru spiritual, karier Subur cukup moncer. Dalam sehari, pasien yang datang menurut Ujang mencapai 100-300 orang.
Namun karier guru spiritual Eyang Subur belakangan mendatangkan masalah. Adi menuding Subur sebagai dukun yang mengajarkan aliran sesat. Selama 17 tahun bersentuhan dengan Subur, ia diajari praktik-praktik yang menyimpang dari syariat Islam. Tak hanya itu, Adi mengungkap Eyang Subur mempunyai delapan istri.
Istri-istri itu, lanjut mantan penyanyi cilik itu, sebagian ‘dibajak’ dari artis yang berguru kepada Subur. Bahkan, istrinya sendiri, Nurjannah, pernah hendak diambil paksa oleh Subur. Adi berhasil melepaskan diri dari ‘pengaruh’ Subur baru sekitar tahun 2010. Adi mendapat dukungan dari banyak pihak, yang mengaku menjadi korban Subur. Salah satunya mantan murid Subur bernama Arya Wiguna.
Arya menyebutkan, Eyang Subur mempunyai pesugihan. Subur juga memiliki peliharaan makhluk halus berupa jin yang bersemayam di kristal-kristal di rumah Subur. Sejumlah sumber menyebut, Eyang Subur mulai dipandang sebagai orang yang punya ‘kelebihan’ pada tahun 1991. Saat itu, terjadi kebakaran hebat melanda kompleks Duri Kepa. Anehnya, rumah Subur tidak ikut dilahap si jago merah. “Saat itu dia mulai dianggap sakti,” kata Ujang.
Diundang dalam acara “(Bukan) Empat Mata” Trans7, Tarzan bercerita, dirinya sempat menjenguk Subur pasca-musibah kebakaran itu terjadi. Sejak saat itulah, seorang teman di Srimulat meminta agar Subur tak lagi dipanggil dengan sebutan “Cak”. “Tapi Eyang,” kata Tarzan. Tetangga Subur, Sholeh membenarkan hal itu. Subur juga meminta masyarakat sekitar memanggilnya Eyang.
Baca Juga: Lidya Kandou Cerai, Penyebab Lidya Kandou Cerai Belum Terungkap
Baca Juga: Belanja Iklan Politik di Jatim Mencapai 6 Triliun Tahun 2013
Baca Juga: Film Cloud Atlas, Kejeniusan Tiga Sutradara dalam Harmoni Fiksi dan Sains
Padahal, menurut Sholeh, rumah Eyang Subur bukan tak tersentuh api. Lantai satu dari rumah bertingkat itu terbakar. “Siang hari, karyawan  membersihkan abu dan mengecet kembali,” kata Sholeh. Subur dikabarkan pernah berguru kepada orang pintar di Parung, Bogor, Jawa Barat, bernama Lindun (73).
Namun, saat ditemui oleh majalah detik, Lindun menolak disebut sebagai guru Subur. Memang, kata dia, pada tahun 1970-an, Subur sering berkunjung ke rumahnya. Itu dilakukan Subur dalam rangka meminta pelaris usaha jahit. “Dia orangnya agak sombong, kalau dikasih ilmu bisa
bahaya,” ujar kakek penyandang tunanetra tersebut.
Eyang Subur sendiri membantah apa yang ditudingkan oleh Adi cs. Untuk meyakinkan, saat dikunjungi pada Rabu 20 Maret 2013 lalu, Subur memutar VCD yang berisi kegiatan buka puasanya bersama mantan Kapolda Metro Irjen Firman Gani. Ia juga menunjukkan salah satu sudut ruangannya yang dipenuhi sajadah dan mukena. “Semua yang dikatakan Adi itu bohong. Tulis di mediamu seperti itu,” ujar lelaki yang pipinya sudah mulai kempot tersebut.

sumber: (WAN /IYE/Majalah Detik/Detik.com )

Catatan Selengkapnya »

kumpulan Humor kang Ibing

5 comments
Catatan Selengkapnya »

Kapeurih diri

0 comments

tilu belas taun lilana urang ngalalakon ngabina saung Rumah tangga
nu dipiharep taya lian ngan saukur seja nyambungkeun duriat ngajajap bagja
dina sajeroning eta saung,kasusah jeung karudet di pecut ku tali kanyaah urang duaan
sangkan beresihna tali katresna teu udar tur pegat kabawa caah sagara

Ayeuna..anjeun ngadadak menta eta tali di pungkas ku ka ceuceb
dipeugatkeun ku kadengki nu taya  ujung pangkalna
anjeun leuwih milih ngalogoran tambang ka heman nu salila ieu dijieun panyangcang
anjeun maksa sangkan eta pamageuh ngalogoran panyangreudna

Didieu...nu nyesa ngan ukur si Jalu buah katresna urang duaan
nu teu weuleh imut lucu ku beresihna seuri hate manusa nu can kakiruhan dosa
ngan ukur ,manena nu jadi panyumanget panggeuing kalbu
sawatara anjeun .... geus panceg ngijing sila bengkok sinembah
bral 'nyi...ngan ukur beresihna pandurung du'a ti akang mah
mudah2an anjeun hibar dina ngalakonan sagara nu anyar

Anjeun...akang...
di teras saung Cinta nu geus karancang hambalanna

Catatan Selengkapnya »

Tukang LOAK SAWAH KURUNG

0 comments

Sagelas Kopiko Brown coffee istuning Pangjajap datangna Kuring ka eta Warung Sangu,gek kuring diuk dina Golodog POS nu aya gigireun eta Warung."Kamana wae atuh Bos..!!!"ceuk nu boga warung bari nyodorkeun sabangsaning gogorengan kanu Dadasar warung semu ngalelece kuring nu emang geus ampir 3 poe lilana teu nganjang ka warung alatan boga hanca Gawe."Hareuh,biasa we mang ngejar setoran,lumayan lah aya Cina totok nu masih keneh merlukeun jasa Kami ngabebenah tiung buruan lantai lantai luhur Tokona,kumaha wadia balad batur uink ngabako di ieu wewengkon kabarna?"tempas kuring bari murak eta gorengan."si Yopi  cikeneh indit neang nu manggil ka Hareup,asep Botol can katembong,tah lamun mang Dadi mah sakeudeung deui ge pasti ngurunyung da kamari ceunah kapapancenan borongan ngabongkar AC ti urang Muhamad Toha,tuh geuning panjang umur karek di omongkeun teh jalmana ngurunyung..!!"ceuk mang Atang nu boga warung bari nunjuk ka mang Dadi nu norojol bari ngaboseh Beca Loak nyampeurkeun Pos tempat kuring pancakaki jeung mang Atang tukang Warung Sangu.
 "Wah Juragan sarerea geuning tos sumping,mangga linggih 'gan mamanawian we aya oteng kanggo abdi nya ari karek manggul manggul wae mah sayah siap ngabantos hehe.."ledek kuring nu emang geus dalit jeung mang Dadi."sok ararisin akh ari di sebut juragan ku oBos teh sok asa ngadadak kambuh panyakit nyeri cangkeng!,kumaha Damang pangersa?"ceuk mang Dadi malik ngaledek kuring bari nyodorkeun dampal leungeun ngajak sungkem siga anak buah kanu jadi dunungan dina pilem pilem.

 Lalakon diluhur emang salah sahiji kagiatan Kuring nu emang geus ampir sababaraha bulan lilana betah ngareureuhkeun kacape rengse usaha ka eta tempat nu emang sok dijadikeun pangreureuhan oge ku Tukang Beca jeung  Tukang Loak keliling.
Memang sapintas euweuh nu aneh jeung pasti biasa biasa,tapi mun ceuk kuring mah aya nilai tersendiri kuring Gauil jeung maranehna,Kuring jadi bisa nyaho wireh di alam dunya ieu cara ngalakonan Hirup tiap jalma teh Rupa2 jeung beda2.
Kuring anu keur berusaha bangkit tina terpuruk masa katukang  saeutik gedena bisa ngeunteung deuleu maranehanna,kuring bisa ngupahan kapeurih jeung ngerem angan2 hate nu emang Mustahil sigana lamun kajadian katukang dimana kuring hirup hurip dina segi katenangan ambruk alatan Balangah ngalakonanna.

  Kuring ngarasa Salut kana Spirit Rahayat leutik siga maranehanna,nu teu Galideur kana kakawen dunya jaman ayeuna anu pinuh ku kahese jeung seuseutna nyumponan eusi beuteung kulawarga.Kuring nu ngamimitian deui Usaha jadi boga batur pakumaha padahal kuring jeung maranehna teu Hir teu Walahir,teu deungeun deungeun acan,wawuh ge kakara sababaraha bulan lilana,tapi asa geus jadi imah ka 2 we eta tempat.
Asa teu mungkin balad jeung baraya Kuring bisa narima kana kaayaan kuring ayeuna nu keur mipit propesi dihandap deui,padahal baheula sawaktu kuring Jugala,teu sirikna ampir tiap poe imah kuring pinuh ku jalma,aya nu ngajak Usaha mah,nu ngeleketek sangkan kuring daek babayar hutang maranehna mah,malah aya oge nu ngahaja leletak ngarah kuring daek barang bere kamaranehna.

  Duh,mang Dadi..mang Atang jeung saparakanca tukang Beca tur Tukang Loak Perumahan Sawah Kurung Raya,Hatur nuhun pisan euy!!,kuring jadi saeutik lobana Paham,yen biasana Jelema mah rek Bener teh sok ngalakukeun Salah heula,atuh sugan jeung sugan we eta peupeujeuh teh keuna kana nasib kuring.Kuring Yakin,hirup tenang jeung bagja mah lain materi nu mudal sajeuroning Imah,tapi nu ngaranna kateunangan mah bathin jeung kalakuan nu daek akur jeung sasama tanpa mandang kalangan mana,teu ka Menak teu ka Cacah istuning Rekep dengdek Papak Sarua.Kuring moal poho kana jasa jasa aranjeun anu geus nga gas deui semangat hirup ka manusa nu Loba kabelet,Bodo jeung daek di Olo ku batur.....!!!!
Catatan Selengkapnya »

D'kabayan IN Memoriam

2 comments


De Kabayan adalah salah satu grup lawak asal kota kembang yang terdiri atas 5 orang personil, yakni Aom Kusman, Kang Ibing, Suryana Fatah, Wawa Sofyan dan Mang Ujang. De'Kabayan muncul pertama kali pada kisaran tahun 1976, tepatnya setelah dibentuknya De'Kabayan saat Kang Ibing baru saja beres menggarap film Si Kabayan bersama Lenny Marlina (pemeran Nyi Iteung) dan Sofyan sharna (sang Sutradara) pada tahun 1975

Setiap personil memiliki ciri khas masing-masing dalam memerankan perannya. Kang Maman alias kang Ibing mewakili urang Sunda bersosok lugu, saking lugunya mampu membuat mangkel lawan bicara. Aom Kusman adalah sosok "playmaker", pengatur yang handal alur pembicaraan yang biasanya menjadi sosok paling 'waras' dalam setiap cerita, Suryana Fatah alias Koh Holiang adalah sosok etnis Tionghoa yang tak mau kalah, Wawa Sofyan alias mas Sastro menjadi kaum abangan Jawa yang sedikit pongah, terakhir ada Ujang lagi-lagi orang Sunda yang sekadar pelengkap dan pemberi umpan lucu.

Di era 80-an kaset lawak memang bukan barang yang langka. Selain TVRI dan berbagai pentas, eksistensi kelompok lawak banyak ditopang oleh penjualan kaset rekaman berupa lawakan dan lagu-lagu mereka. Selain De Kabayan ada Surya Grup, Warung Kopi (Warkop) Prambors, Jayakarta Grup, Pancaran Sinar Petromaks, hingga Sersan Prambors.
Aom Kusman. Begitulah Kita mengenal sosok beliau. Namun nama sebenarnya dari beliau adalah Kusman Karatanegara, panggilan Aom tersebut merupakan panggilan untuk anak bupati saat itu, dimana untuk laki-laki dipanggil 'aom' dan untuk perempuan dipanggil 'juag'. Alhasil terlahirlah nama Aom Kusman yang lebih populer dari pada Kusman Kartanegara (nama aslinya).

Aom merupakan pria kelahiran Sukabumi, 24 Juni 1946. Aom banyak menghabiskan masa kecilnya di Sukabumi, Waktu itu, sang ayah menjabat patih Sukabumi. Namun, menginjak bangku sekolah lanjutan, Aom tinggal di Kota Dodol Garut karena ayahnya menjadi bupati Garut.
Aom hijrah ke Bandung saat hendak menempuh kuliah di Jurusan Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran sekitar 1965. Alasan Aom mengambil jurusan tersebut karena Aom kecil pernah memiliki obsesi untuk dapat keliling dunia sebagai duta besar. Namun, obsesi tersebut redup karena terhasut bisikan teman yang mengatakan bahwa duta besar hanya mendapat gaji sebesar Rp. 50.000,- . Tapi siapa sangka, temannya itu malah terhitung sukses bekerja di Deplu.
Nama Aom Kusman terus melejit saat kemampuan Aom dalam berbicara menuntunnya ke bidang Master of Ceremony, hingga akhirnya tawaran ngemsi, melawak (saat tergabung dalam duet IBING-KUSMAN) hingga main film terus berdatangan. Dan popularitas Aom pun makin terdongkrat saat menjadi pembawa acara 'Hey.. Hey.. Siapa Dia...' di TVRI, yang merupakan stasiun televisin satu-satunya saat itu.

Mungkin sudah banyak yang tau tentang tokoh ini. yah..Kang Ibing memang salah satu tokoh sunda yang terkenal karena kesundaanya, namun siapa sangka bila nama Ibing ini bukanlah nama asli dari si akang ini.
Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata, begitulah seharusnya agan2 kenal beliau. Kang Ibing lahir di Sumedang, pada tanggal 20 Juni 1946. selain sebagai pelawak sunda yang tergabung dalam group lawak De’ Kabayan bersama sama dengan Aom Kusman, Suryana Fatah, Wawan Sofyan dan Mang Ujang, Kang Ibing ini juga memiliki profesi sebagai bintang film, penyiar radio sekaligus penceramah.
Menurut cerita, asal usul nama Ibing alasannya adalah karena Kang Ibing yang pada saat itu penyiar radio Mara merupakan penggemar artis Bing Slamet. Kemudian diambilah kata “Bing” dan ditambah dengan huruf “I” agar tidak sama, sehingga menjadi “Ibing”. Sebagai pelengkapnya, digunakan kata “Kang” yang juga berfungsi sebagai panggilan terhadap orang yang lebih tua, khususnya di daerah Parahiyangan. Dengan demikian, jadilah panggilan “Kang Ibing” yang melekat dan lebih dikenal oleh masyarat Sunda khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya. Kebetulan juga, ia memang gemar pada gerakan ibing penca, jadi sangat sesuai menggunakan panggilan “Kang Ibing”. For Nyedot Dongeng Kang Ibing Waktu siaran.



Suryana Fatah (83), yang meninggal dunia di Bandung, Sabtu pekan lalu. Suryana, yang dalam komunitas lawak dikenal dengan panggilan Babah Holiang, mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung akibat sakit stroke.
Asep Sumantara, putra keenam Suryana Fatah, yang bertandang ke Redaksi Kompas Bandung bersama putranya, Sagi, Senin (8/9) malam, mengatakan, ayahnya telah lama menderita penyakit darah tinggi kemudian stroke.
Babah Holiang kelahiran Leles Garut sangat dikenal oleh masyarakat lawak sejak dekade tahun 70-an sampai 80-an. Terakhir, Babah Holiang bergabung dalam grup lawak De Kabayan dengan anggotanya Kang Ibing, Aom Kusman, Ujang, dan Sofyan Hargono (almarhum).
Suryana, yang dalam setiap lawakan terampil berdialek Tionghoa itu, ternyata asli Leles Garut. Menurut Asep, banyak pihak terkecoh mengira bapak warga keturunan.

Dalam beberapa kali bertemu penggemar, ada yang memakai bahasa mandarin kepada ayahnya. "Sedikit pun bapak tidak tahu bahasa mandarin. Bapak asli Leles, Garut," kata Asep.
Sejak "pensiun" dari De Kabayan tahun 1994, aktivitas Babah Holiang adalah berdakwah pada sejumlah masjid dan kegiatan yang sifatnya religius di Kota Bandung. Sebelum bergabung dengan De Kabayan, Suryana terkenal dengan grup lawak 4S di mana bergabung dalam kelompok itu adalah Sup Yusuf.
Menurut Asep, ayahnya sangat merindukan salah seorang anak atau cucunya meneruskan tradisi lawak dalam keluarganya.
Akan tetapi, di antara sepuluh anak almarhum dan 25 cucu, hanya Nana Suryana Fatah (50) yang bisa mengikuti jejak Babah Holiang. Nana sering tampil dalam acara bintang tamu pada grup lawak Bagito, juga dengan dialek Tionghoa.
Di mata Asep, ayahnya adalah sosok lelaki tegas dan berwibawa, sikap itu jauh dari penampilan almarhum tatkala berada di panggung komedi.
Jenazah Suryana Fatah dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Cikutra Bandung diikuti ratusan masyarakat dan tokoh lawak di Bandung antara lain Sup Yusuf dan Kang Ibing.(zal) -kutipan kompas-

Berikut kutipan Lawak d'KABAYAN (klik)
Catatan Selengkapnya »

Lagu2 Sunda

0 comments

 Halangan Diri (DARSO)

NA KUNAON SAGALA RUPA

NGAN ARAL,GAGAL JEUNG GAGAL
SOAL CINTA JEUNG USAHA
KANDAS PAMAKSADAN

KAMUDAHAN BEUT NGABALIEUR
KALAH KA NGAN NARONGGONGAN
PARUNTUNGAN
LUMPAT NGAJAUHAN
NAHA-NAHA KUNAON

REFF##

BOA-BOA HALANGAN DIRI
NU MANGRUPI DOSA-DOSA
KAJONGJONAN,..KANGENAHAN
NGUMBAR-NGUMBAR LARANGAN


BOA-BOA HALANGAN DIRI
NU MANGRUPI DOSA-DOSA
NU NGAJAJAR MEUNI PANJANG
SAPANJANG JALAN KARETA

ADUH GUSTI ADUH GUSTI KUMAHA NGAENTENGKEN NANA
ADUH GUSTI ADUH GUSTI KUMAHA NGABEBASKEUNA


PANON CIREUMBAY,MAPAY MAPAY PIPI
RAGRAGAN KANA SAJADAH
NGINGET NGINGET LAKU LAMPAH
NINGGANG SALAH JEUNG SALAH

HATE ANU MELIT
HATE ANU MELIT
KABEULIT KU DOSA DOSA
BIWIR ANU NGAGETEUR NGEDALKEUN RASA NGIWAT
AMPUN-AMPUN DUH GUSTI
_______________________________


 Katineung (Dhean Minor)

Girimis nu jadi saksi
lalakon urang duaan
Waktu urang babarengan
Ngalepas kasono ati
ngaleupas katineung asih

Kiwari tinggal waasna
Mun nyawang mangsa katukang
Meungkeut janggji rek ngajadi
hanjakal henteu ngajadi
Jodomah kagungan gusti.

Chorus:
Saliwat anjeun asa nembongan
Ngalangkang mawa kamelang
kabayang anjeun imut ngaheureuyan
Nganhanjakal saukur kalangkang

Najan ayeuna urang geus paanggang
Najan janji pasini teu ngajadi
Tapak tilas lalampahan
Urang duaan masih narembongan
____________________________________

 Ronggeng Imut ( RIKA RAFIKA)


Nyi ronggeng imutna matak kayungyun
geulis campernik…
rengkak paripolahna…
ngengklak ku tepak kendang luhur panggung

Di gual geol gitekna di sunggal senggol
goyang di goyang
kataji imut nyi ronggeng

Imut ronggeng imut kabengbatan
mentang daya tarik keur bajidor
imut bentang panggung katalimbeung
teteup sekeut kameumeut nu narongton

haaaaaaaaaaaa...........haaaaaaaaaaaaa....2x



Catatan Selengkapnya »

Kanggo pun Ema

0 comments

duh...Ema..
Di sajeuroning ngeucrekna hujan nu marengan poekna peuting
Aya sora anu jentre dina ieu Hape

Sujang…
Syukur ari calageur mah
Eta nu dipenta ku ema beurang jeung peuting

Sujang….
Syukur ari aya dina keberkahan mah
Eta nu dipenta ku ema beurang jeng peuting

Sujang…
Syukur ari aya dina rohmat-Na
Ema ngarasa bagja

Sujang…
Hampura ema tina sagala kasalahan
Maklum sikep kolot ka anak
Ema hayang bebas tina sagala dosa ka anak

Sujang...
Sakali deui,ema menta dihampura
Du'akeun ema sing sehat sing kuat nepi ka tutup ajal

Duh..
Ema… sawangsulna Ujang nu kedah dihampunten ku salira
Ujang tos nyesahkan ti lahir dugi ka ayeuna
Ujang teu malire,Ujang joledar kanu jadi indung

Duh…
Ema… indung Ujang, hampunten Ujang tina sagala kelepatan
Rumaos  Ujang  janten anak anu tos ngaraheutkeun manah
Nagiweurkeun emutan

Duh…
Ema… keclakna cipanon  Ujang  nu murudul lir ibarat dosa  Ujang  ka ema…
Hapunten  Ujang …

Duh ...Ema..
Mugia Salira seja ngiklaskeun tiap tetes cai Susu
Nu ngalir dina ieu Awak Ujang

Ayeuna ...
Ujang teu weuleh rikip ku Kamelang
upami ngemutan kana bebendon Salira..

Ya Alloh pangersana Gusti..
Mugia Anjeun nyaangan kiruhna bathin Diri..
kanggo tumut kana temah Wadi..
keur papaes mulang tarima kanu jadi Tunggulna Rahayu.....pun Ema...




Catatan Selengkapnya »