Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Eyang Subur - Potret Kehidupan ataukah Budaya

0 comments


 Beberapa minggu ke belakang pemberitaan media di kejutkan dengan pertikaian antara Adi bing Slamet vs Eyang subur yang dalam hal ini adalah mantan guru Spiritualnya sendiri..Yah..mungkin sudah menjadi rahasia umum bahwa disekitar kita masih banyak orang yang mempercayakan akidah ataupun keberuntungannya di asah melalui perantara sang Guru Spiritual.berikut sedikit banyak biografi yang konon merupakan Guru spiritual kalangan sebagian Artis.
Subur adalah bandar togel di Jombang sebelum hijrah ke Jakarta. Membangun toko jahit dengan pelanggan pertama para pelawak Srimulat. Dianggap sakti sejak rumahnya tak terbakar.
Jombang sejak lama dikenal sebagai basis kalangan santri. Di sana pula berdiri banyak pesantren yang cukup tua usianya. Namun siapa nyana, di tahun 1960-an, perjudian sempat marak di kota kecil di Jawa Timur (Jatim) tersebut. Judi merambah hingga sudut-sudut perkampungan. Salah satunya di Kampung Tugu Kepatihan, Gang IV, Kelurahan Kepanjen, Kota Jombang.
Di kampung itulah, sekitar 1965-an itu, terdapat seorang bandar judi yang cukup moncer. Namanya Subur. Nama itu belakangan menggegerkan jagat hiburan dan politik di tanah air. Bermula dari perseteruan antara Subur dengan seorang pesohor, Adi Bing Slamet. Adi menuding pria berusia 67 tahun itu sebagai dukun dan penyebar ajaran sesat.
Perseteruan itu sampai ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan bahkan masuk Gedung Dewan DPR. Kebetulan, anggota DPR sedang membahas pasal santet dalam RUU KUHP.
Eyang Subur adalah anak pertama dari pasangan suami istri Matari dan Rubiah. Ia mempunyai dua adik perempuan, Sutik (62) dan Sutikah (59). Kedua orang tua Subur menghidupi anak-anaknya dari hasil berburuh tani.
Saat menjalani profesi sebagai bandar judi, Eyang Subur masih terbilang remaja. Ia baru saja lulus dari sebuah sekolah ekonomi di kampung halamannya itu. Subur mengundi judi togel yang dibandarinya dua kali dalam sepekan. “Jumlahnya sangat banyak saat itu,” kenang sohib Subur, Supri (62), saat ditemui majalah detik.
‘Bisnis’ itu dijalani Subur dengan lancar selama 5 tahun, meski kadang merugi. Nah, suatu hari, tutur Supri, ‘klien’ Subur berhasil menang besar. Subur pun kalang kabut membayarnya. Karena tak punya uang, ia memutuskan untuk kabur. “Dia sampai dikejar-kejar polisi,” ucap Supri.
Sekitar tahun 1970-an, Subur ‘terdampar’ di Jakarta. Namun, Sutik menampik kakaknya pergi ke Jakarta karena menjadi buron kasus perjudian. Subur merantau ke ibu kota untuk melanjutkan usaha jahitnya. Di Jombang, usaha kecil-kecilan yang digeluti Subur itu kurang laku. “Cak Subur ke Jakarta naik kereta. Keluarga sedih ditinggal,” ucap Sutik kepada majalah detik.
Di Jakarta, Eyang Subur memang sempat mendirikan toko jahit di Blok C, Slipi, Jakarta Barat (Jakbar). Toko bernama “Penjahit Antik Tailor” juga dipakai sebagai tempat tinggal Subur dengan para karyawannya. Subur banyak menerima orderan dari toko-toko baju di Pasar Blok M. Dari usaha jahit itu pula awal mula Subur bersinggungan dengan kalangan artis.
Tak jauh dari toko jahit Subur, persisnya di Jl. Anggrek Cendrawasih Raya No. 37, bermarkas grup lawak legendaris, Srimulat. Basecamp itu berbentuk rumah, yang disewa oleh almarhum pelawak Asmuni. Di situ pula Asmuni berjualan rujak cingur. Sedangkan, personel Srimulat lainnya
menyewa rumah di sekitar basecamp.
Tahun 1980-an Srimulat mencapai masa keemasan. Srimulat banyak memesan kostum untuk keperluan manggung dari Subur. Kostum itu bermacam-macam, mulai dari yang formal berupa jas, hingga yang unik. Contoh kostum unik itu antara lain kostum drakula yang dipakai Yongki.
“Jahitan Subur itu bagus, makanya pesan ke sana,” kata personel Srimulat, Nurbuat.
Tak sekadar urusan jahit-menjahit, Eyang Subur dekat dengan Srimulat karena faktor Slamet. Slamet adalah anggota Srimulat yang satu kampung halaman dengan Subur di Jombang. Kabarnya pula, bersama Slamet-lah Subur berangkat merantau ke Jakarta. Saking dekatnya, bila sedang mengantar jahitan, Subur ikut menimbrung membahas grup Srimulat.
Di lingkungan Srimulat, Eyang Subur dipanggil dengan sebutan “Cak”, panggilan pertemanan khas Jatim. Bila datang ke markas Srimulat, penampilan Subur selalu mengundang perhatian. “Pakaiannya paling necis,” kata mantan pembantu Asmuni, Samir.
Hubungan Eyang Subur dengan Srimulat tak berubah ketika ia pindah rumah ke Gang Beringin III, Pasar Patra, Kelurahan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakbar. Malah, beberapa personel Srimulat seperti Tarzan, Mamiek, Gogon, dan Tessy, balik berkunjung ke rumah tersebut. Tahun terus berjalan, pergaulan Subur dengan kalangan pekerja seni pun semakin luas. Artis-artis yang lebih junior dibanding Srimulat satu per satu berkenalan dengan Subur.
Mereka antara lain Adi, pelawak Bagito Grup, Unang, serta Septian Dwi Cahyo, seorang pantomimer. Sejak pindah ke Duri Kepa, Subur juga meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang jahit. Dekat dengan artis, ia pun menjajal pekerjaan baru sebagai sutradara film. Eyang Subur sempat mendirikan rumah produksi bernama Paisindo. Namun, film yang sempat dibuat tak pernah berhasil tayang.
“Kalau saya ngobrol dengan orang film, dia bilang nggak akan laku,” ucap Ujang, mantan pembantu Subur. Cerita yang berkembang kemudian menyebutkan, Subur menjadi pengorbit artis-artis yang datang kepadanya. Versi lainnya, Subur menjadi semacam konsultan atau guru spiritual para artis yang ingin sukses dalam kariernya.
Fenomena guru spiritual ini memang hal biasa di kalangan pekerja hiburan di Jakarta. Sebagai guru spiritual, karier Subur cukup moncer. Dalam sehari, pasien yang datang menurut Ujang mencapai 100-300 orang.
Namun karier guru spiritual Eyang Subur belakangan mendatangkan masalah. Adi menuding Subur sebagai dukun yang mengajarkan aliran sesat. Selama 17 tahun bersentuhan dengan Subur, ia diajari praktik-praktik yang menyimpang dari syariat Islam. Tak hanya itu, Adi mengungkap Eyang Subur mempunyai delapan istri.
Istri-istri itu, lanjut mantan penyanyi cilik itu, sebagian ‘dibajak’ dari artis yang berguru kepada Subur. Bahkan, istrinya sendiri, Nurjannah, pernah hendak diambil paksa oleh Subur. Adi berhasil melepaskan diri dari ‘pengaruh’ Subur baru sekitar tahun 2010. Adi mendapat dukungan dari banyak pihak, yang mengaku menjadi korban Subur. Salah satunya mantan murid Subur bernama Arya Wiguna.
Arya menyebutkan, Eyang Subur mempunyai pesugihan. Subur juga memiliki peliharaan makhluk halus berupa jin yang bersemayam di kristal-kristal di rumah Subur. Sejumlah sumber menyebut, Eyang Subur mulai dipandang sebagai orang yang punya ‘kelebihan’ pada tahun 1991. Saat itu, terjadi kebakaran hebat melanda kompleks Duri Kepa. Anehnya, rumah Subur tidak ikut dilahap si jago merah. “Saat itu dia mulai dianggap sakti,” kata Ujang.
Diundang dalam acara “(Bukan) Empat Mata” Trans7, Tarzan bercerita, dirinya sempat menjenguk Subur pasca-musibah kebakaran itu terjadi. Sejak saat itulah, seorang teman di Srimulat meminta agar Subur tak lagi dipanggil dengan sebutan “Cak”. “Tapi Eyang,” kata Tarzan. Tetangga Subur, Sholeh membenarkan hal itu. Subur juga meminta masyarakat sekitar memanggilnya Eyang.
Baca Juga: Lidya Kandou Cerai, Penyebab Lidya Kandou Cerai Belum Terungkap
Baca Juga: Belanja Iklan Politik di Jatim Mencapai 6 Triliun Tahun 2013
Baca Juga: Film Cloud Atlas, Kejeniusan Tiga Sutradara dalam Harmoni Fiksi dan Sains
Padahal, menurut Sholeh, rumah Eyang Subur bukan tak tersentuh api. Lantai satu dari rumah bertingkat itu terbakar. “Siang hari, karyawan  membersihkan abu dan mengecet kembali,” kata Sholeh. Subur dikabarkan pernah berguru kepada orang pintar di Parung, Bogor, Jawa Barat, bernama Lindun (73).
Namun, saat ditemui oleh majalah detik, Lindun menolak disebut sebagai guru Subur. Memang, kata dia, pada tahun 1970-an, Subur sering berkunjung ke rumahnya. Itu dilakukan Subur dalam rangka meminta pelaris usaha jahit. “Dia orangnya agak sombong, kalau dikasih ilmu bisa
bahaya,” ujar kakek penyandang tunanetra tersebut.
Eyang Subur sendiri membantah apa yang ditudingkan oleh Adi cs. Untuk meyakinkan, saat dikunjungi pada Rabu 20 Maret 2013 lalu, Subur memutar VCD yang berisi kegiatan buka puasanya bersama mantan Kapolda Metro Irjen Firman Gani. Ia juga menunjukkan salah satu sudut ruangannya yang dipenuhi sajadah dan mukena. “Semua yang dikatakan Adi itu bohong. Tulis di mediamu seperti itu,” ujar lelaki yang pipinya sudah mulai kempot tersebut.

sumber: (WAN /IYE/Majalah Detik/Detik.com )

Catatan Selengkapnya »

PERIBAHASA SUNDA

0 comments

Paksakeun sing daraek sholat. Sabab wujudnya aksara ISLAM teh disusun ku SHOLAT anu lima waktu, nyaeta – Paksakan supaya mau melaksanakan shalat, sebab wujud dari tulisan “Islam” itu disusun oleh SHALAT lima waktu yaitu: I …sa, S ...ubuh, L … ohor, A … sar, M …agrib. Dengarkan juga nasihat Khutbah Jum’at Hudhur aba dari Mesjid Baitut Tauhid, St Pietro de Casale, Bologna Italy, 16 April 2010, tentang kewajiban melaksanakan Shalat.

Isuk jaganing geto …… di tengah-tengah Situ Kaparabon bakal aya TUTUMPAKAN anu MAJUNA ku SEUNEU – Kapan-kapan nanti, di tengah-tengah Situ Kaparabon akan ada sarana transportasi yang dijalankan dengan api (mesin motor bakar – combustion engine).

Mun Pulo Jawa geus dirante beusi, julang ngapak ngawang-ngawang, silaing indit ti tatar kulon ka tatar wetan bari mawa endog borojolan, mun geus tepi ka tatar wetan, haneutna eta endog euy, masih karasa keneh – Jika Pulau Jawa sudah diikat dengan rante besi (rel kereta api) burung terbang di angkasa (kapal terbang), kamu berangkat dari Barat ke Timur sambil membawa telor yang baru diperocotkan, hangatnya telor itu euy masih dapat terasa …..

(Ujang) Amir, Ojo, ku silaing baris kaalaman mangke jaganing jaga bakal aya HUJAN LEBU –
Amir, Ojo, oleh kamu-kamu akan dialami besok lusa nanti, akan ada HUJAN ABU!

Jaga aya sora hawar-hawar nu datangna ti tungtung kaler, ngaguruh pating jelegur aya garuda megarkeun endog, genjlong saamparan jagat. Palangsiang dunya rek kiamat. Ari di urang Nusa Sunda rame ku nu mangpring, prangpringna sabuluh-buluh gading – Nanti ada suara sayup-sayup yang hampir tidak terdengar, datang dari sebelah Utara (Jepang nyerbu dengan diam2), yang menghebohkan seluruh dunia. Barangkali dunia ini akan kiamat, tapi di Tatar Sunda sih ….. .. prangpringna sabuluh-buluh gading (nyao atuh).

Ulah sieun maot, sabab urang pasti ngalaman maot. Tapi anu kudu sieun mah, saenggeusna urang maot, anu bakal hirup langgeng di aherat, naha urang geus boga bebekelan pikeun hitup di aherat? – Jangan takut mati, karena kita pasti akan mengalami maut; tetapi yang harus ditakutkan, ialah setelahnya mati itu, yang akan hidup kekal di akhirat, apakah sudah punya perbekalan untuk hidup di akhirat nanti?

Mun boga kenur sadeupa ulah niat nyoba nekad nguseup ka sagara - Kalau hanya punya tali pancing kenur satu depa, janganlah nekat untuk mencoba-coba mancing di lautan.

Mun geus nyaho ulah poho, tangtu moal kabobodo. Mun geus ngarti ulah lali, pinasti moal pahili. Lamun rasa geus rumasa, kade ulah asa-asa, hirup moal katambias. Mun geus iman ulah mangmang, moal kagembang ku nu herang – Kalau sudah tahu jangan lupa, maka tidak akan tertipu. Kalau sudah mengerti jangan lupa, takdir tidak akan tertukar. Kalau perasaan sudah punya rasa, jangan ragu-ragu, hidup tidak akan tersisihkan. Kalau sudah beriman janganlah ragu-ragu, tidak akan tertarik oleh gemerlapnya keduniawian.
Bejakeun nu saenyana jeung sajujurna yen rasana uyah teh asin – Katakanlah dengan sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya, bahwa rasa garam itu adalah asin (Berkata benar dan jujur).

Tiis ibun ampih pikir; nyaho ka badan pribadi, tangtu nyaho Ka-Islamanana. Sing karasa sing kapanggih, ari anu tujuh lawang jadi RATU, aya dina diri – Sejuknya embun dan tenteramnya pikiran; tahu akan keadaannya sendiri, tentu tahu akan ke-ISLAM-annya. Supaya terasa dan agar ketemu, bahwa tujuh pintu untuk menjadi kekasih TUHAN itu ada di dalam diri pribadinya.

Jisim ngarasa nyeri, raga ngarasa lara, hate ngarasa cape. Hareudang nyandang wiwirang, perbawa hawa napsu, ujub sub’ah takabur, jeung ria panggoda setan – Diri merasa sakit, badan terasa merana, ati merasa capek. Gerah karena harus menanggung dosa yang memalukan, dikarenakan terbawa nafsu, ujub sok, sub’ah, takabur dan ria, karena godaan Syaithan.

Mun jaga maraneh jadi PAMINGPIN, kudu mibanda JIWA WIBAWA, KOMARA, jeung langkahna panceg dina GIRI JALADRI, SURTA PAWAKA, Nu kitu disebut JIWA AGUNG, ADIL PARAMARTA - Kalau nanti kalian diangkat menjadi PEMIMPIN, haruslah memiliki JIWA yang ber-WIBAWA, memiliki charisma KOMARA, dengan langkah yang mantap panceg dalam GIRI JALADRI, SURTA PAWAKA, Itulah yang disebut JIWA AGUNG, ADIL PARAMARTA. (Menegakkan Keadilan itu adalah jauh lebih luhur daripada menegakkan Hukum; menegakkan hukum, hanyalah merujuk pada pasal tertentu hukum perundang-undangan, yang bisa dikomoditikan; jika menggunakan pasal yang ini, hukumannya begini, dengan menggunakan pasal yang itu hukumannya begitu, jadi bisa diatur dan ditawarkan kepada pihak siapa yang akan dibela dan pihak mana yang harus ditolong, tetapi menegakkan keadilan itu tidak dapat dijual-belikan, dan harus dengan menggunakan perasaan – rasa keadilan, MK).

Pangkat ukur pupulasan, banda ngan ukur titipan; nyawa ukur gagaduhan. Tetela jeung rumasa, manusa tuna kaboga - Pangkat hanyalah hiasan bedak, harta benda hanyalah titipan, nyawa hanya pemilikan sementara. Jelaslah dan rasakanlah bahwa manusia itu tidak punya apa-apa.

Lauk laut mah, sanajan hirup dina cai asin, tapi rasa dagingna teu kabawakeun asin. Pieunteungeun – PAMADEGAN – Ulah kapangaruhan lingkungan, tong rempan katiup topan, ISTIQAMAH ulah GOYAH - Ikan laut itu, walaupun hidup di dalam air yang masin, tetapi rasa dagingnya tidak terbawa jadi asin. Untuk dijadikan contoh bahwa – PENDIRIAN itu – jangan terpengaruh oleh keadaan lingkungan (yang buruk), jangan khawatir karena tertiup taufan, tetaplah ber- ISTIQAMAH dan janganlah goyang.

Mas perak inten juminten, jamrut yakut, berlian kancana wulan; merah delima sutrajingga, rinukmi biduri asri. Eta perhiasan alam endah, tapi perhiasan nu leuwih endah mah ISTRI NU SHALEH, Mustika anugrah Allah - Mas perak intan berlian, jamrut yakut, berlian kancana wulan; merah delima sutrajingga, rinukmi biduri asri. Itulah perhiasan alam dunia yang indah, tetapi perhiasan nu lebih indah lagi sih ISTRI yang SHALEH, Mustika anugerah Allah.

Singgetna; hirup ngan sapoe sapeuting, sabab, umur diburu ku waktu. Waktu nu beurang nu mana, waktu peuting nu mendi, urang dimangsa ajal? Numatak beurang peuting salilana kudu eling – Singkatnya, hidup ini cuma sehari satu malam, sebab umur itu dikejar oleh waktu. Waktu siang yang mana, malam yang mana, kita akan menemui ajal? Oleh karena itu siang dan malam harus selalu dan selamanya sadar dan ingat (berzikir kepada Tuhan Maha Kuasa).

Catatan Selengkapnya »